KAMPAR – Anggota DPRD Kabupaten Kampar, Habiburrahman, menyoroti menurunnya prestasi kafilah Kabupaten Kampar pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-44 tingkat Provinsi Riau di Kabupaten Kuansing. Meski mengapresiasi perjuangan seluruh kontingen, ia menilai hasil yang diraih tahun ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pihak terkait.
"Di satu sisi tentu kita mengapresiasi seluruh kontingen MTQ Kampar yang telah berjuang maksimal. Namun di balik itu, kita juga harus membuka mata. Tahun ini Kampar berada di peringkat ketujuh, padahal sebelumnya berada di peringkat keenam. Ini menjadi catatan besar bagi pembinaan MTQ di Kabupaten Kampar," ujar politisi PPP ini, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, penurunan prestasi tersebut harus menjadi perhatian Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), pemerintah daerah, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan peserta MTQ agar segera melakukan pembenahan.
Habiburrahman menilai salah satu faktor utama yang memengaruhi menurunnya prestasi adalah belum optimalnya proses pembinaan. Selain itu, potensi qari dan qariah yang dimiliki Kabupaten Kampar dinilai belum tergarap secara maksimal.
Ia mengungkapkan, masih ada putra-putri Kampar yang justru membela daerah lain karena dinilai mendapatkan penghargaan atau insentif yang lebih baik.
"Mungkin reward atau penghargaan yang diberikan daerah lain lebih tinggi dibandingkan daerah kita. Ini harus menjadi perhatian. Jangan hanya mengharapkan prestasi mereka, tetapi juga harus memberikan penghargaan yang layak," katanya.
Untuk meningkatkan prestasi di masa mendatang, Habiburrahman mendorong agar pembinaan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Menurutnya, proses pembinaan tidak boleh hanya berfokus pada peserta yang sudah menjadi juara atau mengandalkan lulusan pesantren dan lembaga pendidikan.
"Pembinaan harus dimulai dari bawah, dari tingkat kecamatan. Selama ini kita terkadang hanya menerima hasil pembinaan dari pesantren, madrasah tsanawiyah, maupun madrasah aliyah. Ke depan, pembinaan harus dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya proses seleksi yang objektif dan bebas dari praktik nepotisme.
"Kita harus jujur. Kalau memang mereka mampu, lanjutkan. Kalau tidak mampu, jangan dipaksakan, meskipun berasal dari keluarga tertentu atau memiliki kedekatan dengan pihak tertentu. Yang diutamakan harus tetap kualitas dan kemampuan peserta," tegasnya.
Habiburrahman berharap evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan dan seleksi peserta dapat segera dilakukan sehingga prestasi Kabupaten Kampar pada MTQ tingkat Provinsi Riau dapat kembali meningkat pada penyelenggaraan berikutnya.
Disisi lain, Ustadz Iskandar, salah seorang tokoh agama Kabupaten Kampar, menilai penurunan prestasi Kampar pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Riau perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
"Di bawah kepengurusan LPTQ saat ini telah terjadi berbagai perubahan positif, termasuk pelaksanaan pembinaan rutin setiap akhir pekan bagi para calon peserta MTQ. Namun, hasil yang dicapai belum sesuai harapan karena mayoritas peserta Kampar hanya mampu meraih juara dua dan belum banyak yang berhasil menjadi juara pertama," ujar Ustadz iskandar.
Ia menilai persoalan utama bukan semata pada pengurus LPTQ, melainkan masih kurangnya pembinaan yang berjenjang hingga tingkat kecamatan.
"Pembinaan selama ini lebih banyak terpusat di tingkat kabupaten, sementara di banyak kecamatan belum ada pembinaan yang berjalan secara berkesinambungan. Padahal, penjaringan bibit qari dan qariah seharusnya dimulai dari kecamatan melalui kerja sama antara LPTQ, pondok pesantren, madrasah,"pungkasnya.
(])
#mtq riau #lptq kampar #prestasi anjlok