Warga Ragu Jembatan Koto Setingkai Bertahan Lama, PUPR Kampar Janji Turun Cek

Warga Ragu Jembatan Koto Setingkai Bertahan Lama, PUPR Kampar Janji Turun Cek
Jembatan Koto Setingkai Lubuk Agung Kampar Kiri

KAMPAR - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kampar merespons keluhan masyarakat terkait kondisi Jembatan Koto Setingkai di Desa Lubuk Agung, Kecamatan Kampar Kiri. 

Warga sebelumnya menyuarakan kekhawatiran terhadap kondisi jembatan yang dinilai belum permanen dan dikhawatirkan tidak mampu bertahan lama.

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Kampar Zainal Arifin menyebut pihaknya akan turun langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi jembatan tersebut, termasuk menindaklanjuti usulan pembangunan yang sebelumnya telah disampaikan masyarakat.

“Memang itu perlu saya cek langsung. Hari ini saya belum sampai ke sana, nanti saya akan turun ke lokasi untuk melihat seperti apa kondisi sebenarnya dan usulan yang disampaikan,” ujar Zainal, Senin (22/6/2026).

Ia mengakui, masyarakat tentu berharap jembatan di wilayah tersebut dapat dibangun secara permanen dengan konstruksi beton agar lebih aman dan tahan lama. Namun, menurutnya, pembangunan jembatan permanen membutuhkan anggaran yang cukup besar.

Disisi lain Plt Kadis PUPR Kampar Rusdi Hanif nenjelaskan, pembangunan jembatan beton permanen memiliki umur rencana sekitar 25 hingga 30 tahun dengan syarat dilakukan pemeliharaan rutin. Hanya saja, kebutuhan anggarannya berkisar Rp350 juta hingga Rp400 juta per meter, sudah incloude  pekerjaan sipil seperti abutmen dan komponen penunjang lainnya.

“Kalau jembatan permanen tentu keinginan kita sama, yaitu membangun konstruksi beton yang lebih kuat. Tapi anggarannya memang besar, sekitar Rp350 juta sampai Rp400 juta per meter, itu sudah termasuk termasuk pekerjaan sipil lainnya,” jelas Hanif.

Hanif juga menyebut kondisi jembatan di wilayah kabupaten sangat beragam. Dari sekitar 1.300 jembatan di ruas jalan kabupaten, ada yang dalam kondisi laik, rusak ringan, rusak sedang, hingga rusak berat, dengan berbagai jenis konstruksi seperti beton, rangka baja, hingga jembatan kayu.

Karena itu, penanganan jembatan dilakukan secara bertahap menyesuaikan dengan skala prioritas dan kemampuan anggaran daerah. Untuk Jembatan Koto Setingkai, PUPR memastikan akan lebih dulu melakukan pengecekan lapangan sebelum menentukan langkah penanganan, apakah melalui pemeliharaan, perbaikan, atau rekonstruksi permanen.

“Alokasi anggaran yang tersedia saat ini baru sebatas agar jembatan tetap bisa dirawat, dipelihara, dan fungsional. Nanti secara bertahap akan kami lihat apakah bisa direkonstruksi atau ditingkatkan dengan penanganan yang lebih permanen,” katanya.

Sebelumnya, masyarakat setempat menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi jembatan yang lantainya masih menggunakan papan. Warga menilai jembatan tersebut rawan rusak, apalagi kerap dilintasi kendaraan bertonase besar seperti truk.

(Dir)

#PUPR #Kampar Kiri #jembatan koto setingkai